SIDOARJO – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh narasi yang menyebutkan ratusan pelajar di Kabupaten Sidoarjo mendadak dinyatakan positif HIV. Menanggapi kepanikan publik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo langsung merilis data resmi untuk meluruskan kesalahpahaman informasi yang terlanjur viral tersebut.
Kemenkes menegaskan bahwa angka 522 yang beredar di masyarakat bukanlah lonjakan kasus baru yang terjadi dalam waktu singkat atau dalam satu tahun. Angka tersebut merupakan data gabungan atau kumulatif dari berbagai jenjang usia yang dikumpulkan selama 25 tahun terakhir, tepatnya sejak tahun 2001 hingga 2026.
Pihak Dinkes Sidoarjo menjelaskan bahwa tingginya angka kumulatif ini justru dipicu oleh masifnya upaya pemerintah dalam memperluas layanan pemeriksaan (skrining) massal. Akibatnya, kasus-kasus lama yang selama ini tersembunyi berhasil ditemukan dan tercatat demi mendapatkan penanganan medis segera.
Berdasarkan data resmi Kemenkes RI, jika dikerucutkan khusus pada kelompok remaja usia sekolah (rentang usia 11 hingga 17 tahun), angka riilnya jauh di bawah narasi yang viral di media sosial:
- Total Kasus Kumulatif (2001–2026): Tercatat ada 60 kasus.
- Kondisi Saat Ini: Dari 60 anak tersebut, sebanyak 34 anak aktif menjalani pengobatan rutin, 7 anak dinyatakan meninggal dunia, dan sisanya telah pindah domisili atau tidak terpantau lagi.
Kemenkes juga memetakan persebaran kasus pada anak dan remaja di Sidoarjo menjadi beberapa kelompok penting:
- Usia 0–10 Tahun (117 Kasus): Seluruh anak di kelompok ini tertular melalui jalur vertikal, yaitu dari ibu kandung saat masa kehamilan, proses melahirkan, atau menyusui. Saat ini, 32 di antaranya aktif berobat.
- Usia 11–17 Tahun (60 Kasus): Mayoritas tertular melalui jalur horizontal atau kontak perilaku berisiko [Kemenkes].
- Usia 18–24 Tahun (1.006 Kasus): Kelompok usia produktif/mahasiswa ini didominasi oleh penularan akibat hubungan seksual berisiko, dengan angka tertinggi ditemukan pada populasi Lelaki Seks Lelaki (LSL).
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Saat ini, seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Sidoarjo telah menyediakan obat ARV (Antiretroviral) secara gratis. Obat ini berfungsi menekan pertumbuhan virus di dalam tubuh agar penderita bisa tetap hidup sehat, produktif, dan sekolah seperti biasa.
Kemenkes mengingatkan bahwa musuh utama penanggulangan HIV bukanlah penyakitnya, melainkan stigma negatif masyarakat. Ketakutan akan dikucilkan justru membuat orang-orang berisiko enggan melakukan tes kesehatan. Melalui edukasi yang benar, diharapkan mata rantai penularan dapat diputus lebih cepat.(red)






